Berkenalan dengan Industry 4.0 - Nara Killjoy

Nara Killjoy

Make Some Noises.

Senin, 25 Februari 2019

Berkenalan dengan Industry 4.0


Industry 4.0? Apa itu? Apakah dia sejenis sistem operasi seperti Android? Ataukah dia merupakan mahasiswa terbaik dengan IP 4.0? (krik... krik... krik...). Sebagian besar kita mungkin masih merasa asing dengan istilah barusan. Industry 4.0 atau lebih dikenal sebagai Revolusi Industri jilid empat merupakan kelanjutan dari revolusi industri sebelumnya, Industry 3.0 (ya iya lah). Kalian harusnya pernah mendengar istilah revolusi industri di buku sejarah saat masih duduk di bangku pelaminan sekolah. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai seluk beluk dari Industry 4.0, ada baiknya kita berkenalan terlebih dahulu dengan calon mertua para pendahulunya.

Linimasa perkembangan revolusi industri

Revolusi industri yang pertama dimulai di Britania Raya ketika mesin uap ditemukan pada akhir abad ke-18. Kalian bisa membayangkan sebuah kereta api dengan cerobong asap di lokomotifnya yang menyemburkan asap tebal sebagai salah satu contohnya. Ya, teknologi yang saat ini terkesan jadul ternyata menjadi sebuah anugerah terindah yang pernah ku miliki saat itu. Sejarah mencatat perekonomian naik secara dramatis di mana pendapatan per kapita negara-negara di dunia rata-rata meningkat hingga enam kali lipat. Industri terus berkembang secara pesat. Revolusi yang kedua dimulai dari sekitar tahun 1850an hingga Perang Dunia I. Masa ini ditandai dengan ditemukannya baja hingga digunakannya listrik untuk kebutuhan produksi di pabrik secara masal. Pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dan sebagainya merupakan contoh produk yang banyak diproduksi kala itu.

Pada revolusi industri ketiga, teknologi mesin uap yang sebelumya sempat beken tergantikan dengan teknologi analog, mekanik, dan elektrik. Perubahan ini dimulai dari akhir tahun 1950an hingga akhir 1970an. Revolusi industri keempat kemudian menyempurnakan apa yang sudah ada pada versi ketiga, yaitu dengan berkembangnya teknologi digital dan kecerdasan buatan. Dengan Industry 4.0, pengadopsian teknologi komputer dan otomatisasi akan makin disempurnakan. Sistem yang pintar ini mampu berjalan sendiri (otonom) karena berisi data dan machine learning. Peran manusia bisa jadi benar-benar tidak dibutuhkan lagi dalam proses pembuatan keputusan.

Sembilan teknologi penopang Industry 4.0

Pengamat berpendapat bahwa revolusi industri keempat mampu mentransformasi proses produksi serta meningkatkan efisiensi. Hubungan proses bisnis antara produsen, distributor, dan konsumen akan berubah, begitu pula dengan hubungan antara manusia dengan mesin. Dengan dukungan mesin yang semakin cerdas sebagaimana mereka memiliki akses lebih terhadap data, pabrik-pabrik akan menjadi lebih efisien dan produktif. Selain itu, tidak akan ada banyak sumber daya yang terbuang percuma. Dilansir dari www.bcg.com dan www.forbes.com, terdapat sembilan teknologi yang berperan sebagai pilar dari Industry 4.0, antara lain:

1. Big Data and Analytics
The more, the merrier. Sesuai namanya, big data merupakan data yang amat sangat besar. Data ini bisa berasal dari mana saja untuk kemudian dievaluasi secara komprehensif. Analisis terhadap big data akan menjadi standar dalam mendukung proses pengambilan keputusan secara real-time. Kalau diibaratkan, jika kita punya lebih banyak teman lawan jenis, kesempatan kita untuk mendapatkan pasangan yang tepat pun akan semakin besar. Mantap.

2. Autonomous Robots
Bukan sesuatu yang mustahil jika suatu saat nanti manusia akan hidup berdampingan sebagai pasangan suami-istri dengan robot. Robot di sini pun tidak dibatasi dengan seperti yang biasa kita lihat di film-film Hollywood. Sebagai contoh, saat ini sudah ada beberapa perusahaan yang memproduksi kendaraan yang mampu mengemudi sendiri. Selain itu, alat pengangkut barang otomatis pada gudang Amazon di Amerika juga dapat dikategorikan sebagai robot.

3. Simulation
Simulasi di sini bukan seperti simulasi untuk mengantisipasi bencana gempa bumi, tsunami, atau kebakaran. Dalam konteks Industry 4.0, simulasi akan lebih banyak digunakan dalam operasi pabrik untuk memanfaatkan real-time data dan membuat cerminan dunia nyata dalam model virtual. Operator atau pengguna akan dapat menguji dan mengoptimalkan setingan mesin secara virtual sebelum diterapkan di dunia nyata. Dengan adanya sistem ini, pengguna akan mampu memprediksikan output yang akan terjadi dengan berbagai macam input yang diujikan. Mirip-mirip sama film Black Mirror: Bandersnatch lah.

4. Horizontal and Vertical System Integration
Namanya ribet dan panjang ya, kayak kisah cinta kamu. Intinya dengan Industry 4.0, perusahaan, departemen, fungsi, dan kapabilitas akan menjadi lebih padu. Integrasi terjadi tidak hanya secara vertikal (atas ke bawah), melainkan juga secara horizontal (ke samping).

5. The Industrial Internet of Things
Internet of Things (IoT) digambarkan sebagai perangkat yang saling terhubung, berkomunikasi, dan berinteraksi satu sama lain dengan kendali yang lebih tersentralisasi, tentunya dalam jaringan internet. Penggunaan IoT pun sebenarnya sudah banyak diterapkan di sekitar kita. Misalnya, sekarang kita bisa memantau keadaan di rumah kita saat ditinggal mudik dengan mengakses CCTV rumah melalui perangkat smartphone. Kita juga bisa melacak pesawat untuk penerbangan tertentu secara real-time melalui aplikasi Flightradar 24. Penggunaan IoT sendiri sebenarnya ada banyak sekali dan meliputi berbagai macam bidang. Harus kita akui bersama bahwa internet benar-benar telah memudahkan kehidupan manusia.

6. Cybersecurity
Dengan semakin bergantungnya kita terhadap internet pada era Industry 4.0, ancaman terhadap keamanan siber tentunya akan semakin meningkat pula. Peretasan akun Instagram artis oleh orang yang tidak bertanggung jawab merupakan salah satu contoh remeh mengenai masalah keamanan siber. Bayangkan saja jika yang diretas merupakan akun perbankan atau akun petinggi perusahaan/pemerintahan yang berisi informasi-informasi rahasia. Oleh karena itu, jaringan komunikasi yang aman dan andal, serta manajemen akses dan ID yang canggih menjadi mutlak diperlukan. Saran saya, jangan malas mengeluarkan beberapa rupiah untuk membeli software keamanan yang sudah ternama seperti Kaspersky atau McAfee.

7. The Cloud
Dengan semakin besarnya kegiatan berbagi data antara situs dan perusahaan, dibutuhkan penyimpanan dengan kapasitas besar yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja. Google Drive dan OneDrive merupakan salah dua contoh penyimpanan cloud yang banyak digunakan saat ini. Kalau kalian punya data-data penting, taruh aja di cloud. Suatu saat ketika kalian butuh, kalian hanya perlu unduh tanpa perlu repot-repot membawa flashdisk atau HDD eksternal kemana-mana. Tidak hanya terbatas pada media penyimpanan, Cloud juga terkait dengan pemrosesan data secara online di web tanpa perlu memasang aplikasi apapun di perangkat kita. 

8. Additive Manufacturing
Additive manufacturing merupakan teknologi yang membangun objek 3D dengan menambahkan lapisan demi lapisan bahan baku, baik berupa plastik, logam, semen, hingga jaringan tubuh manusia (suatu saat nanti). Perusahaan mulai mengadopsi additive manufacturing seperti 3D printing, yang umumnya digunakan untuk membuat prototipe dan membuat komponen individual. Semoga suatu saat nanti para jomblo bisa mengembangkan additive manufacturing sehingga kita bisa mencetak pasangan hidup sendiri. Sip.

9. Augmented Reality
Augmented reality (AR) merupakan pengalaman interaktif atas lingkungan dunia nyata di mana objek-objek yang ada di dunia nyata “ditambah” oleh informasi persepsi yang dihasilkan komputer, meliputi berbagai modalitas sensoris, termasuk visual, auditori, haptic, somatosensoris, dan penciuman. Di masa mendatang, perusahaan akan menggunakan AR untuk menyediakan informasi secara real-time kepada pekerjanya guna menunjang proses pengambilan keputusan dan prosedur kerja. Contoh dari penerapan AR adalah proses ujian praktik menerbangkan pesawat yang dapat dilakukan tanpa perlu mengoperasikan pesawat betulan.

Revolusi industri jilid empat merupakan kenyataan yang sudah ada di depan mata. Apakah Industry 4.0 merupakan ancaman bagi umat manusia? Jawabannya tergantung dari perspektif mana kita melihat keadaan. Bagi mereka yang sudah siap dengan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam menunjang Industry 4.0, revolusi ini dapat menjadi ladang bagi mereka untuk memanen pundi-pundi Rupiah (atau bahkan Dollar). Perusahaan-perusahaan yang berhasil menerapkannya pun dapat menikmati manfaat yang ditawarkan dari perubahan ini. Malang bagi mereka yang tetap bertahan dengan pola pikir dan kerja yang lama, perlahan tapi pasti akan tergeserkan oleh mesin dan robot-robot. Perusahaan yang enggan menerapkan revolusi ini pun diyakini akan tersingkir karena tidak mampu bersaing dengan mereka yang beroperasi secara lebih efisien.

So, bagaimanakah sikap kalian dalam menyambut era Industry 4.0? Apakah kalian sudah menyiapkan bekal yang diperlukan? Persaingan global yang sebelumnya dirasa mengancam ternyata belum ada apa-apanya jika dibanding dengan revolusi industri jilid empat ini. Kali ini, manusia tidak hanya bersaing dengan manusia dari belahan dunia lain. Manusia juga dituntut untuk bersaing dengan robot dan mesin yang tak bernyawa, namun berlogika. Bukan tidak mungkin jika suatu saat nanti, demo penolakan terhadap TKA (tenaga kerja asing) akan berganti menjadi demo penolakan terhadap TKR (tenaga kerja robot). Bagi pandangan kalian di kolom komentar, ya!
Cheers!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar